BAB
1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Sejarah
masuknya Islam ke wilayah Nusantara sudah berlangsung demikian lama, sebagian
berpendapat bahwa Islam masuk pada abad ke-7 M yang datang lansung
dari Arab. Pendapat lain mengatakan bahwa Islam masuk pada abad ke-13, dan ada
juga yang berpendapat bahwa Islam masuk pada sekitar abad ke 9 M atau 11 M .
Perbedaan pendapat tersebut dari pendekatan historis semuanya benar, hal
tersebut didasar bukti-bukti sejarah serta penelitian para sejarawan yang
menggunakan pendekatan dan metodenya masing-masing.
Berdasarakan
beberapa buku dan keterangan sumber referensi sejarah, bahwa Islam mulai
berkembang di Nusantara sekitar abad 13 M . hal tersebut tak lepas dari
peran tokoh serta ulama yang hidup pada saat itu, dan diantara tokoh yang
sangat berjasa dalam proses Islamisasi di Nusantara terutama di tanah Jawa
adalah “ Walisongo”. Peran Walisongo dalam proses Islamisasi di tanah Jawa
sangat besar. Tokoh Walisongo yang begitu dekat dikalangan masyarakat muslim
kultural Jawa sangat mereka hormati. Hal ini karena ajaran-ajaran dan
dakwahnya yang unik serta sosoknya yang menjadi teladan serta ramah terhadap
masyarakat Jawa sehingga dengan mudah Islam menyebar ke seluruh wilayah
Nusantara. Di Indonesia Islam merupakan agama resmi dan menjadi mayoritas. Oleh
karena itu, umat Islam perlu bangga akan tingginya umat Islam di indonesia.
Mengapa Islam di Indonesia dapat menjadi besar dan terhormat? Itu tidak
terlepas dari usaha para pendahulu kita yang dengan tekun dan gigih menyebarkan
dan mempertahankan Islam di Indonesia.
B.
Rumusan
Masalah
1. Dimana
letak geografis Indonesia ?
2. Bagaimana
proses awal masuknya islam di Indonesia ?
3. Bagaimana
perkembangan Islam di Indonesia ?
4. Siapa
tokoh yang berperan dalaam proses penyebaran islam di Indonesia ?
C.
Tujuan
Makalah
ini di buat dengan tujuan untuk
1. Mengetahui
perkembangan islam di Indonesia?
2. Mengetahui
tokoh dan peran proses penyebaran islam di Indonesia ?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Profil
Indonesia
![]() |
Indonesia adalahsalah satu negara di benua Asia, yaitu Asia tenggara. Merupakan negara kepulauan yang beibukotakan jakarta, dan berpenduduk mayoritas muslim. Terdiri dari 33 provinsi dengan 5 pulau besar yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahasa
dilihat secara geografis, wilayah Indonesia terletak pada posisi yang strategis
dan menguntungkan karena beberapa alasan sebagai berikut:
1.
Letak Indonesia di antara Benua Asia dan Benua
Australia.
2.
Letak Indonesia di antara Samudra Pasifik dan Samudra
Hindia.
Beberapa keuntungan yang diperoleh berdasarkan letak
geografis Indonesia, antara lain sebagai berikut:
1.
Indonesia yang terletak di antara dua benua dan dua
samudra memungkinkan menjadi persimpangan lalu lintas dunia, baik lalu lintas
udara maupun laut.
2.
Indonesia sebagai titik persilangan kegiatan
perekonomian dunia, antara perdagangan negara-negara industri dan negara-negara
yang sedang berkembang. Misalnya antara Jepang, Korea, dan RRC dengan negara-negara
di Asia, Afrika, dan Eropa.
Karena letak geografisnya pula
Indonesia mendapat pengaruh berbagai kebudayaan dan peradaban dunia, serta
secara alami dipengaruhi oleh angin musim. Sekitar bulan Oktober-April angin
bertiup dari Asia ke Australia yang membawa banyak uap air dari Samudra Pasifik
sehingga menimbulkan musim hujan. Sekitar bulan April-Oktober angin
B.
Proses
masuknya islam di Indonesia
Pada tahun 30 H/651M, hanya berselang sekitar 20
tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim
delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri.
Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman
ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian,
tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di
pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan
Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi
abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah. Lambat
laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran.
Aceh adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah
kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Samudera Pasai. Berita dari
Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H /
1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari
Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi yang ketika singgah di Aceh
tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i.
Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia
terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu
diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada
makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan
Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan
makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin. Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah terutama Belanda menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin. Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah terutama Belanda menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad
ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus
mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk
kepulauan ini telah memeluk Islam, sehingga semangat Perang Salib pun selalu
dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam
mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu
/ Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka
setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan
Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa.
Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari
sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun
1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh
berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan
gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam
Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di
Makkah.Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah
membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain
membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren
(madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab
Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah
dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah
sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih
terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah
orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka
yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang
sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini
berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan
syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak
perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia),
Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga
perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang
Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar)
C.
Perkembangan
islam di Indonesia
Perkembangan Islam di Indonesia
berawal dari kemunduran kerajaan Sriwijaya dan Majapahit pada awal abad ke-13.
Kondisi politik seperti ini di manfaatkan oleh para pedagang-pedagang muslim
untuk mendukung daerah-daerah yang muncul dan menyatakan sebagai kerajaan Islam.
Kerajaan Islam yang pertama adalah Perlak, Sumatera Utara yang berkuasa tahun
840-1292 M. Runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa menjadi awal perkembangan
Islam di pulau jawa. Hal ini memberi peluang kepada raja-raja di daerah pesisir
untuk membuat kekusaan yang independen. Di bawah bimbingan spiritual Sunan Kudus, meskipun bukan yang tertua dari
wali songo, Demak akhirnya berhasil menggantikan Majapahit sebagai keraton
pusat.
Perkembangan islam di daerah timur,
khususnya Maluku ti dak bisa dipisahakan
dari jalur perdagangan, yang terbentang pada pusat lalu lintas pelayaran internasional
di Malaka, Jawa dan Maluku. Sejak abad ke-14 islam datang ke Maluku, Raja
Ternate Molomatea bersahabat karib dengan seorang pedagang Arab. Orang-orang
islam datang ke Maluku tidak menghadapi kerajaan-kerajaan yang sedang mengalami
perpecahan seperti di Jawa, tetapi menyebarkan islam dengan cara berdagang dan
berdakwah.
Kalimantan timur pertama di islamkan
oleh Datuk Ri Bandang dan Tunggang Parang. Kedua mubaligh ini data ng ke Kutai
setelah orang-orang Makassar masuk Islam. Proses Islamisasi di Kutai
diperkirakan terjadi pada tahun 1575.
Sulawesi, terutama bagian selatan
sejak abad ke-15M telah di datangi para pedagang muslim dari Malaka, Sumatera
dan Jawa. Pada awal abad ke-16 M, di Sulawesi masih banyak kerajaan yang
menyembah berhala. Akan tetapi pada awal
abad ke-16 di daerah Gowa, sebuah kerajaan yang terkenal di daerah itu para
penduduknya telah menganut islam. Raja- raja Gowa-Tallo resmi menganut islam
pada tahun 1605. Proses islamisasi di kerajaan Gowa dilakukan dengan cara damai
oleh Dato’Ri Bandang dan Dato Sulaeman.
Islamisasi di Indonesia dilakukan
dengan cara perdagangan, politik, pernikahan, tasawuf, pendidikan, kesenian.
D.
Tokoh
dan perannya dalam perkembangan islam di Indonesia
Proses penyebaran Islam di Indonesia atau proses
Islamisasi tidak terlepas dari peranan para pedagang, mubaliqh/ulama, raja,
bangsawan atau para adipati. Di pulau Jawa, peranan mubaliqh dan ulama
tergabung dalam kelompok para wali yang dikenal dengan sebutan Walisongo atau
wali Sembilan.Ada beberapa pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama adalah
wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada sembilan, atau sanga
dalam bahasa Jawa. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal
dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lainnya lagi
menyebut kata sana berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat. Nama-nama
Walisanga yang mencolok atau banyak menyumbangkan sesuatu baik itu dalam
pemerintahan,ekonomi,sosial,budaya dan lain-lain, sebagai berikut:
1. Maulana
Malik Ibrahim
Dikenal dengan nama Syeikh Maghribi menyebarkan
Islam di Jawa Timur. Ia disebut juga Sunan Gresik, Ia diperkirakan lahir di
Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Ia mengajarkan cara-cara
baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan
masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim
berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang
saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik. Pada
tahun 1419, Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di Desa Gapura
Wetan, Gresik, Jawa Timur.
2. Sunan
Ampel
Dengan nama asli Raden Rahmat menyebarkan Islam di
daerah Ampel Surabaya. Ia disebutkan masih berkerabat dengan salah seorang
istri atau selir dari Brawijaya raja Majapahit. Sunan Ampel umumnya dianggap
sebagai sesepuh oleh para wali lainnya. Ia menikah dengan Nyai Ageng Manila,
putri adipati Tuban bernama Arya Teja.
3. Sunan
Bonang
Adalah putra Sunan Ampel memiliki nama asli Maulana
Makdum Ibrahim, menyebarkan Islam di Bonang (Tuban). Ia adalah putra Sunan
Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan
Bonang banyak berdakwah melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar
memeluk agama Islam.
4. Sunan
Drajat
Dia juga putra dari Sunan Ampel nama aslinya adalah
Syarifuddin, menyebarkan Islam di daerah Gresik/Sedayu. Ia adalah putra Sunan
Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan
Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat kebanyakan menekankan kedermawanan,
kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari
agama Islam. Pesantren Sunan Drajat dijalankan secara mandiri sebagai wilayah
perdikan, bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang
macapat Pangkur disebutkan sebagai ciptaannya. Gamelan Singomengkok
peninggalannya terdapat di Museum Daerah Sunan Drajat, Lamongan. Sunan Drajat
diperkirakan wafat wafat pada 1522.
5. Sunan
Giri
Nama aslinya
Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Bukit Giri (Gresik). merupakan murid
dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang. Ia mendirikan
pemerintahan mandiri di Giri Kedaton, Gresik.
6. Sunan
Kudus
Nama aslinya Syeikh Ja’far Shodik menyebarkan ajaran
Islam di daerah Kudus. Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang
besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak, yaitu sebagai panglima perang dan
hakim peradilan negara. Ia banyak berdakwah di kalangan kaum penguasa dan
priyayi Jawa. Diantara yang pernah menjadi muridnya, ialah Sunan Prawoto
penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang Panolan. Salah satu
peninggalannya yang terkenal ialah Mesjid Menara Kudus, yang arsitekturnya
bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus diperkirakan wafat pada tahun
1550.
7. Sunan
Kalijaga
Nama aslinya Raden Mas Syahid atau R. Setya
menyebarkan ajaran Islam di daerah Demak. Ia adalah murid Sunan Bonang. Sunan
Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah,
antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk Ilir-Ilir
dan Gundul-Gundul Pacul umumnya dianggap sebagai hasil karyanya. Dalam satu
riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana
Ishaq.
8. Sunan
Muria
Dia
adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Syaid menyebarkan islamnya
di daerah Gunung Muria. Ia adalah putra dari Sunan Kalijaga yang menikah dengan
Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung.
9. Sunan
Gunung Jati
Nama aslinya Syarif Hidayatullah, adalah putra
Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Jamaluddin Akbar. Dari pihak ibu,
ia masih keturunan keraton Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari
Sri Baduga Maharaja. Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat
dakwah dan pemerintahannya, yang sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan
Cirebon. Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan
kekuasaan dan menyebarkan agama Islam di Banten, sehingga kemudian menjadi
cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Indonesia
merupakan negara Kepulauan yang berada di wilayah Asia Tenggara. Islam masuk ke
Indonesia pada awal abad ke-7 masehi yang dibvawa oleh para pedagang Arab,
Persia, dan India.
2. Perkembangan
islam di Indonesia diawali dengan berdirinya kerajaan Samudera pasai di Aceh
3. Tokoh
penyebar Islam di Indonesia terutama jawa dikenal dengan Wali Songo
DAFTAR
PUSTAKA
Badri,
yatim. 2008. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada
Dedi,
Supriyadi. 2008. Sejarah Peradaban Islam.
Bandung : Pustaka Setia
Lutfi,
Mustofa . 2009. Maulana Malik Ibrahim.
Malang : UIN malang Press

Tidak ada komentar:
Posting Komentar