BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Usia rata-rata anak Indonesia saat masuk sekolah
dasar adalah 6 tahun dan selesai pada usia 12 tahun. Mengacu pada pembagian
tahapan perkembangan anak, anak usia sekolah dasar berada dalam dua masa
perkembangan, yaitu masa perkembangan kanak-kanak tengah usia 6-9 tahun dan
masa kanak-kanak akhir usia 10-12 tahun. Anak sekolah dasar memiliki
karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih muda. Ia senag
bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok dan senang merasakan
atau melakukan.
Anak sebagai peserta didik merupakan pribadi-pribadi yang unik, sebagai
individu yang dinamis dan berada dalam proses perkembangan mempunyai berbagai
macam kebutuhan dan dinamika dalam interaksinya dengan lingkungan sekitar. Pada
diri anak senantiasa terjadi adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil
belajar. Hal tersebut merupakan aspek-aspek psikologis dalam pendidikan yang
bersumber dari dalam diri anak sehingga menuntut adanya pendekatan psikologis
untuk memfasilitasi perkembangan anak tersebut.[1]
Salah satu cara anak mendapatkan informasi adalah
melalui bermain. Bermain memberikan motivasi instrinsik pada anak yang
dimunculkan melalui emosi positif. Emosi positif yang terlihat dari rasa ingin
tahu anak meningkatkan motivasi instrinsik anak untuk belajar. Hal ini
ditunjukkan dengan perhatian anak terhadap tugas. Emosi negative seperti rasa
takut, intimidasi dan stress, secara umum merusak motivasi anak untuk belajar.
Rasa ingin tahu yang besar, mampu berpikir fleksibel dan kreatif merupakan
indikasi umum anak sudah memiliki keinginan untuk belajar. Secara tidak
langsung bermain sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak untuk belajar
dan mencapai sukses.
Oleh karena itu, bimbingan konseling memiliki andil yang sangat besar dalam
membantu setiap peserta didik agar dapat mandiri dan dapat berkembang secara
optimal, dan dalam hal permasalahan dalam belajar siswa, bimbingan konseling
turut berperan dalam membantu proses dan pencapaian tujuan pendidikan. Namun,
masih sangat dirasakan bahwa memberikan layanan bimbingan dan konseling untuk
anak agak sulit. Disamping melihat dari segi kematangannya, konselor juga harus
ingat bahwa anak memiliki karakteristik khusus maka dalam pemberian layanan pun
harus disesuaikan.
B. Rumusan Masalah
Dari latar
belakang di atas, dapat di rumuskan rumusan masalah :
1. Apa
yang di maksud dengan konseling bermain?
2. Bagaimana
peran konseling bermain terhadap pembentukan karakter anak usia sekolah dasar ?
C.
Tujuan
Tujuan
pembuatan makalah ini adalah untuk :
1. Mengetahui
konseling bermain
2. Mengetahui
peran bimbing konseling dalam pembentukan karakter anak usia sekolah dasar
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Dan Konsep Konseling Bermain
Dalam
melakukan komunikasi dengan anak, kita seringkali kesulitan. Hal ini disebabkan
anak tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam menjelaskan permasalahannya.
Seringnya, anak justru akan terlihat ketakutan atau memperlihatkan
penolakan jika orang dewasa mendekatinya dengan menggunakan bahasa verbal.
Salah satu waktu anak bisa berekspresi adalah saat
mereka bermain. Sebagaiman diungkap oleh Muro & Kottman (1995) bahwa
bermain merupakan bentuk self expression bawaan anak. Bermain
terjadi secara alamiah pada anak dan merupakan suatu ekspresi spontan dari
emosi dan pikiran-pikirannya.
Definisi bermain dijelaskan Dockett & Fleer
(2000) “was a process in enganging in aimless activities, could not be
defined by activities, rather that it was an attitude mind”. Bermain
merupakan sebuah proses dalam mengikutsertakan peserta dalam tujuan,namun lebih
dari pembentukan sikap didalamnya. Dan karakteristik bermain menurut Fromberg (1992)
dan Dockett & Fleer (2000) memberikan gambaran bahwa bemain mempunyai sifat
: simbolis, penuh arti, aktif, menyenangkan, kerelaan, pembangunan peranan,
episode.[2]
Menurut Santrock (2006) bermain (play) adalah
suatu kegiatan yang menyenangkan yang dilaksanakan untuk kepentingan kegiatan
itu sendiri. Erikson dan Freud (Santrock,2006) berpendapat bahwa bermain
merupakan suatu bentuk penyesuaian diri manusia yang sangat berguna menolong
anak menguasai kecemasan dan konflik. Begitu juga Piaget (Santrock, 2006)
memandang bahwa bermain sebagai suatu metode yang meningkatkan perkembangan
kognitif anak-anak. Sedangkan Hurlock (1997) memberikan opini tentang bermain
adalah kegiatan yang dilakukan atas dasar suatu kesenangan dan tanpa
mempertimbangkan hasil akhir. Kegiatan bermain dilaksanakan secara suka rela, tanpa
paksaan atau tekanan dari pihak luar.
Permainan anak berkembang sesuai
dengan usianya. Misalnya bermain dengan aspek sensory motor merupakan
dua jenis bermain yang dilakukan oleh anak pada usia tiga tahun pertama ;
sedangkan bermain simbolik mencapai puncaknya pada usia empat dan lima
tahun yang kemudian diikuti dengan semakin meningkatnya aktivitas permainan
dengan aturan bermain konstruktif. Kecenderungan-kecenderungan perkembangan
bermain tersebut memberikan suatu indikasi tentang bahan, program, dan
aktivitas bermain yang perlu disediakan bagi keperluan pendidikan dan bimbingan
konseling anak[3].
Pada intinya, games bersifat sosial,
melibatkan proses belajar, mematuhi peraturan, pemecahan masalah, disiplin diri
dan control emosional dan adopsi peran-peran pemimpindengan pengikut yang
kesemuanya merupakan komponen penting dari sosialisasi (Serok & Blum , 1993
; Rusmana,2009). Games memberi kesempatan untuk mengekspresikan agresi dalam
cara-cara yang dapat diterima secara sosial. Hal ini menurut Milberg (1976)
sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa bermain dan permainan atau games yang
diciptakan oleh manusia untuk memberikan keluaran-keluaran (outlets)
kemarahan dan permusuhan yang dapat diterima yang merupakan jiplakan dari
respons bertempur atau berkelahi (Rusmana,2009).
B.
Tujuan Konseling Bermain
Pada
dasarnya konseling bermain memiliki tujuan yang sama dengan konseling pada
umumnya, yakni membantu anak untuk belajar tentang diri dan lingkungannya
sehingga ia mampu mengambil keputusan dan upaya-upaya yang tepat sesuai dengan
permasalahan yang dihadapi atau kebutuhan perkembangannya.
Landreth
mengemukakan bahwa dalam proses konseling bermain, konselor hendaknya
menyelesaikan sasaran-sasaran berikut :
1.
Membangun suasana yang aman bagi anak dengan merespon
anak dengan baik
2.
Memahami dan menerima pandangan anak tentang lingkungannya
dengan menunjukkan perhatian yang tepat
3.
Mendorong anak untuk mengekspresikan emosinya tanpa judgement
4.
Mendorong anak untuk bertanggung jawab dan membuat
keputusan sendiri dalam permainannya
5.
Menyedikan peluang kepada anak untuk mengembangkan kemampuan
pengendalian diri dan menghadapi peristiwa yang mungkin akan dihadapinya
6.
Memverbalisasikan pengalaman dan pengamatan konselor
tentang perasaan dan tindakan anak.
C.
Proses Konseling Bermain
Pada umumnya
proses konseling tidak memiliki tahapan yang pasti. Hal-hal yang sifatnya
spontan, emergent, dan kontekstual bisa mempengaruhi jalannya konseling
bermain. Namun tentunya, proses konseling tetap harus memiliki arah yang jelas.
Muro & Kotmann (1995) menyarankan konseling bermain berlangsung dalam
30-50 menit. Fase yang dilalalui adalah sebagai berikut :
1.
Fase Pembukaan
Konselor
dengan sikap penerimaan yang baik mempersilakan dan mengundang anak untuk
bermain di ruangan yang telah disiapkan sebelumnya. Menurut Carmichael (1994),
peran konselor yang pertama dan terpenting adalah menyediakan suatu lingkungan
yang secara emosional permisif dan aman bagi anak untuk berekspresi.
2.
Fase Anak Bermain
Fase selanjutnya anak melakukan aktifitas bermain
sesuai dengan minat dan pilihannya. Konselor di sini menjadi teman bermain.
Pada fase ini , konselor memperhatikan pola-pola perilaku yang ditampilkan
anak. Konselor perlu memverbalisasikan pengalaman dan
pengamatan konselor terhadap perasaan dan tindakan anak.
3.
Fase Penutupan
Dalam ruang bermain, seorang anak yang siap mengakhiri
konseling bisa mengekspresikan kurang minat untuk bermain sehingga mungkin
tampak lesu atau bahkan merengek-rengek. Disarankan agar pada sesi sebelum
penutupan ada semacam pemberitahuan dari pihak konselor. Konselor dapat
mendiskusikan perubahan yang konselor lihat juga meminta pendapat anak tentang
perubahan yang dialaminya sejak awal konseling bermain.
Pada
saat bermain, anak secara spontan menggunakan kemampuan memaknai objek yang dia
tahu, menggunakan/merekayasa, dan manakala tidak tahu anak akan berkata-kata
dan bertanya-tanya dengan penuh perhatian. Melalui bermain anak mencapai
definisi fungsional dari suatu konsep atau objek dan memperfoleh kemampuan
menyampaikan pemikiran secara lisan maupun tertulis.[4]
Kegiatan bermain memberikan
pengalaman pada anak untuk meembangun dunia melalui berbagai fungsi mental dan
emosional. Tahapan bermain menurut piaget berada diantara tahapan bermain
simbolik dengan tahapan bermain game. Tahapan bermain simbolik ialah anak
mengguanakan skema mental suatu objek untuk objek yang lain dalam bentuk
konstruksi dan bermain dramatik. Bermain konstruksi berguna untuk membangun
pikiran anak. Bermain dramatik ialah kemampuan menggambarkan pemikiran abstrak
dengan objek real dan bermain peran.
Tahapan bermain game, yaitu bermain
dengan menggunakan berbagai aturan formal yang dikembangkan oleh diri sendiri
maupun orang lain. Bentuk bermain adalah konstruksi tingkat tinggi dan
sosiodramatik. Bermain konstruksi tingkat tinggi adalah bermain dengan
menggunakan alat permainan tiga dimensi berhubungan dengan struktur ruang,
waktu dan aturan prasyarat. Bermain sosiodramatik merupakan bermaindramatik
tingkat tinggi untuk menumbuhkan kemampuan konseptualisasi berbagai pemikiran
sebagai kesiapan menghadapi berbagai pengalaman hidup.
Menurut Nancy King (1987:143-160)
kategori bermain di sekolah dikelompokan dalam tiga kelompok, yaitu :
1.
Tahapan bermain instrumental, yaitu semua akademis
harus dipromosikan dalam setting pengarahan tidak langsung atau bermain. Bagi
anak dunia bermain merupakan pengalaman yang berdampak sebagai proses belajar.
Kegiatan bermain membangun dunia melalui berbagai fungsi mental dan emosional.
2.
Tahapan bermain menurut Piaget (Heideman &
Hewit,1992) berada diantara tahapan bermain simbolik dengan tahapan bermain
game. Tahapan bermain simbolik ialah anak mengguanakan skema mental suatu objek
untuk objek yang lain dalam bentuk konstruksi dan bermain dramatik. Bermain
konstruksi berguna untuk membangun pikiran anak. Bermain dramatik ialah kemampuan
menggambarkan pemikiran abstrak dengan objek real dan bermain peran.
3.
Tahapan bermain game, yaitu bermain dengan menggunakan
berbagai aturan formal yang dikembangkan oleh diri sendiri maupun orang lain.
Bentuk bermain adalah konstruksi tingkat tinggi dan sosiodramatik. Bermain
konstruksi tingkat tinggi adalah bermain dengan menggunakan alat permainan tiga
dimensi berhubungan dengan struktur ruang, waktu dan aturan prasyarat. Bermain
sosiodramatik merupakan bermain dramatik tingkat tinggi untuk menumbuhkan
kemampuan konseptualisasi berbagai pemikiran sebagai kesiapan menghadapi
berbagai pengalaman hidup.
D.
Jenis-Jenis Permainan
1.
Permainan Sensorimotor ( Praktis )
Menggunakan
semua indera dengan menyentuh, mengeksplorasi benda, berlari, melompat, meluncur,
berputar,melempar bola.
2.
Permainan Sombolis ( Pura-pura )
Terjadi
ketika anak mentransformasikan lingkungan fisik ke suatu simbol, sehingga
bersifat dramatis dan sosiodramatis.Dalam permainan pretend, ada 3 hal
yang biasa terjadi : alat-alat, alur cerita dan peran.
3.
Permainan Sosial
Adalah
permainan yang melibatkan interaksi sosial dengan teman sebaya.
4.
Permainan Konstruktif
Mengombinasikan
kegiatan sensorimotor yang berulang dengan representasi gagasan simbolis.
Permainan Konstrukstif terjadi ketika anak-anak melibatkan diri dalam suatu
kreasi atau konstruksi suatu produk atau suatu pemecahan masalah ciptaan
sendiri.
5.
Games
Adalah
kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh kenikmatan dan menyenangkan yang
melibatkan aturan dan seringkali kompetisi dengan satu anak atau lebih.
E. Peran Konseling Bermain Dalam Perkembangan Karakter
Penggunaan media
bermain dan expressive arts dapat digunakan dalam pelaksanaan layanan
bimbingan (Pamela, 2006). Play media dan expressive arts berfungsi
dalam pekerjaan seorang konselor, karena: (1) anak biasanya tidak mempunyai
kemampuan verbal untuk bertanya, menolong membantu permasalahannya, bermain
salah satu cara berkomunikasi dengan anak dan “see their world“; (2) Expressive
arts dan play media dilihatsebagai salah satu metode membantu anak
mengekspresikan perasaannya dan
membangun sikap positif bagi dirinya dan temannya; (3) Strategi membangun
hubungan digunakan sebagai peningkatan tingkah laku, klarifikasi perasaan; (4) Adanya
keterbatasan tipe tingkah laku.
Gladding (1992;
Pamela, 2006) membuat intervensi konseling dengan menggunakan musik, dance, bermain
dan humor, berkhayal, seni rupa, literatur, menulis, dan drama, beranggapan
bahwa dengan menggunakan beberapa media di atas, seni membangun sebuah
pengalaman bahwa “process oriented, emotionally-sensitive, socially directed
and awareness focused“ dalam permainan berorientasi bagaimana prosesnya,
sensitive dan emosional, bertujuan untuk sosialisasi dan berfokus kepada
kewaspadaan atau kehati-hatian. Dan memungkinkan “ people from diverse
backgrounds to develop in ways that are personally enhancing and enjoyable “ mempelajari
orang dari berbagai latar belakang untuk mengembangkan cara-cara pribadi yang
dapat meningkatkan dan mengembangkan dirinya. Disisi lain, Violet (1998;
Pamela, 2006) memandang bahwa pendekatan bermain ini sebagai salah satu
alternatif metode komunikasi, a window to our children. Teknik kreativitas
ini dapat mengurangi permasalahan tingkah laku, meningkatkan hasil yang menyenangkan,
pada umumnya mendukung kognisi yang sehat, afeksi dan pengembangan interpersonal.
Bermain telah
menjadi bagian dari proses konseling terutama sejak Melanie Klien dan Anna Freud menggunakan
teknik permainan ini dalam psikoterapi anak-anak. Anna Freud (Muro &
Kottman,1995) menyarankan bahwa mengobservasi permainan anak sebagai jalan bagi
seorang konselor dalam membentuk emosi yang menyerangnya. Anna menggunakan
permainan dan boneka untuk mendapatkan anak yang akan ikut dalam kegiatannya.
Freud juga menyarankan bahwa spontanitas anak dalam bermain merupakan metode
komunikasi yang sangat baik dengan mengajaknya dalam lingkungan yang aman dan
akrab bagi mereka. Bahkan Melanie Klein (dalam Muro & Kottman,1995).
1.
Perkembangan intelektual
a.
Merangsang perkembangan kognitif
Dengan permainan sensorimotor,
anak akan mengenal permukaan lembut, halus, kasar atau kaku, sehingga
meningkatkan kemampuan abstraksi (imajinasi, fantasi)dan mengenal konstruksi,
besar-kecil, atas-bawah, penuh-kosong. Melalui
permainan dapat menghargai aturan, keteraturan dan logika.
b.
Membangun
struktur kognitif
Melalui permainan, anak akan memperoleh informasi lebih banyak sehingga
pengetahuan dan pemahamannya lebih kaya dan lebih mendalam. Bila informasi baru
ini ternyata beda dengan yang selama ini diketahuinya, anak mendapat
pengetahuan yang baru. Dengan permainan struktur kognitif anak lebih dalam,
lebih kaya dan lebih sempurna.
c. Membangun kemampuan kognitif
Kemampuan kognitif mencakup kemampuan mengidentifikasi, mengelompokan,
mengurutkan, mengamati, meramal, menentukan hubungan sebab-akibat, menarik
kesimpulan.
Permainan akan mengasah
kepekaan anak akan keteraturan, urutan dan waktu juga meningkatkan kemampuan
logika.
d. Belajar Memecahkan Masalah
Permainan memungkinkan anak
bertahan lama menghadapi kesulitan sebelum persoalan yang ia hadapi dipecahkan.
Proses pemecahan masalah ini mencakup imajinasi aktif anak-anak yang akan
mencegah kebosanan.
e. Mengembangkan rentang konsentrasi
Apabila tidak
ada konsentrasi atau rentang perhatian yang lama, seorang anak tidak mungkin
dapat bertahan lama bermain (pura-pura menjadi dokter,ayah-ibu,guru). Ada yang
dekat antara imajinasi dan kemampuan konsentrasi. Imajinasi membantu
meningkatkan kemampuan konsentrasi. Anak tidak imajinatif memiliki rentang perhatian
(konsentrasinya) pendek dan memiliki kemungkinan besar untuk berperilaku lain
dan mengacau.
2.
Perkembangan
Bahasa
Bermain merupakan “laboratorium bahasa” buat anak-anak. Di dalam bermain,
anak-anak bercakap-cakap dengan teman yang lain, berargumentasi, menjelaskan
dan meyakinkan kosakata yang dikuasai anak-anak dapat meningkat karena mereka
menemukan kata-kata baru.
3.
Perkembangan Sosial
a.
Meningkatkan sikap social
Ketika bermain, anak-anak harus
memperhatikan cara pandang lawan bermainnya, dengan demikian akan mengurangi
egosentrisnya. Dalam permainan itu pula anak-anak dapat mengetahui bagaimana
bersaing dengan jujur, sportif, tahu akan hak dan peduli akan hak orang lain. Anak juga dapat belajar bagaimana sebuah tim dan semangat tim.
b.
Belajar berkomunikasi
Agar dapat melakukan permainan,
seorang anak harus mengerti dan dimengerti oleh teman-temannya, karena
permainan, anak-anak dapat belajar bagaimana mengungkapkan pendapatnya, juga
mendengarkan pendapat orang lain.
c.
Belajar Berorganisasi
Permainan seringkali menghendaki adanya
peran yang berbeda, olah karena itu dalam permainan, anak-anak dapat belajar
berorganisasi sehubungan dengan penentuan ‘siapa’ yang akan menjadi ‘apa’. Dengan permainan, anak-anak dapat belajar bagaimana membuat peran yang
harmonis dan melakukan kompromi
4.
Perkembangan
Emosi
Bermain merupakan pelampiasan emosi dan juga relaksasi. Peran bermain untuk perkembangan emosi :
a.
Kestabilan emosi
Ada tawa, senyum dan ekspresi
kegembiraan lain dalam bermain. Kegembiraan
yang dirasakan bersama mengarah pada kestabilan emosi anak.
b.
Rasa kompetensi dan percaya diri
Bermain menyediakan kesempatan pada anak-anak mengatasi situasi.
Kemampuan ini
akan membentuk rasa kompeten dan berhasil. Perasaan mampu ini pula dapat
mengembangkan percaya diri anak-anak. Selain itu, anak-anak dapat membandingkan
kemampuan pribadinya dengan temannya sehingga dia dapat memandang dirinya lebih
wajar (mengembangkan konsep diri yang realistis)
c.
Menyalurkan keinginan
Didalam bermain, anak-anak dapat
menentukan pilihan, ingin menjadi apa dia. Bisa saja ia ingin menjadi ‘ikan’,
bisa juga menjadi ‘komandan’ atau menjadi ‘pasukan perang’nya atau menjadi
seorang putri.
d.
Menetralisir emosi negative
Bermain
menjadi “katup” pelepasan emosi negatif, misalnya rasa takut, marah, cemas dan
memberi kesempatan untuk menguasai pengalaman traumatik.
e.
Mengatasi konflik
Di dalam bermain, sangat mungkin
akan timbul konflik antar anak dengan lainnya, karena itu anak-anak bisa
belajar alternatif untuk menyikapi atau menangani konflik yang ada.
f.
Menyalurkan agresivitas secara aman
Bermain memberikan kesemapatan
bagi anak-anak untuk menyalurkan agresivitasnya secara aman. Dengan menjadi
‘raja’ misalnya, anak dapat merasa ‘mempunyai kekuasaan’ dengan demikian
anak-anak dapat mengekspresikan emosinya secara intens yang mungkin ada tanpa
merugikan siapapun
5.
Perkembangan
Fisik
a.
Mengembangkan
kepekaan penginderaan
Dengan bermain, anak-anak dapat mengenal berbagai tekstur : halus, kasar,
lembut; mengenal bau; mengenal rasa; mengenal warna
b.
Mengembangkan
keterampilan motorik
Dengan bermain seorang anak dapat mengembangkan kemampuan motorik, seperti
berjalan, berlari, melompat, bergoyang mengangkat, menjinjing, melempar,
menangkap, memanjat, berayun dan menyeimbangkan diri. Selain itu, anak dapat
belajar merangkai, menyusun, menumpuk, mewarnai dan menggambar
c.
Menyalurkan
energi fisik yang terpendam
Bermain dapat menyalurkan energi berlebih yang ada diantara anak-anak,
misalnya : kejar-kejaran. Energi berlebih yang tidak disalurkan dapat membuat
anak-anak tegang, gelisah dan mudah tersinggung.
6.
Bermain Dan
Kreativitas
Dalam bermain, anak-anak dapat berimajinasi sehingga dapat meningkatkan
daya kreativitas anak-anak. Adanya kesempatan untuk berfikir antara batas-batas
dunia nyata menjadikan anak – anak dapat mengenal proses berfikir yang lebih
kreatisif yang akan sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari
Studi tentang bermain dalam bimbingan
dan konseling digambarkan oleh Russ (2003;Rusmana, 2008) dengan mengamati
proses permainan, konselor dapat melihat ekspresi dari sejumlah proses kognisi,
afeksi, proses interpersonal dan pemecahan masalah.
Proses kognisi melaui proses bermain
meliputi (1) organisasi, (2) berfikir divergen, (3)simbolisme, (4) fantasi atau
khayalan. Proses afeksi yang diekspresikan melalui proses bermain meliputi :
(1) ekspresi emosi, (2) ekspresi tema-tema afeksi, (3) aturan emosi dan
modulasi emosi dan (4) integrasi kognisi dan afeksi. Proses interpersonal yang
diekspresikan melalui proses bermain meliputi : (1) empati, (2) skema
interpersonal atau representasi diri, (3) komunikasi. Empati merujuk pada
ekspresi kepedulian dan perhatian terhadap orang lain, sedangkan skema interpersonal
atau representasi diri merujuk pada kapasitas individu untuk mempercayai orang
lain. Komunikasi merujuk pada kemampuan untuk berkomunikasi, mengekspresikan gagasan
dan emosi pada orang lain.
Sweeney dan Homeyer (1999;Rusmana,2008)
menambahkan bahwa terdapat sembilan keuntungan dari konseling melalui permainan
kelompok, yaitu (1) kelompok dapat meningkatkan spontanitas anak sehingga level
berpartisipasi mereka juga tinggi, (2) konseling melalui permainan kelompok
dapat merespon dua persoalan sekaligus yaitu dimensi intrapsikis dan
interpersonal anak, (3) dalam adegan kelompok memungkinkan untuk terjadi
refleksi dan katarsis, (4) konseling melalui permainan kelompok merupakan kesempatan
bagi anak untuk mencapai self-growth dan self-exploration, (5)
melalui konseling dengan permainan (group play therapy) anak lebih
didekatkan dengan realitas kehidupan sebenarnya, (6) karena konseling melalui
permainan kelompok ibarat miniatur masyarakat, maka anak akan memahami makna
kehadirannya bagi anak-anak yang lain, (7) adegan dalam konseling melalui
permainan kelompok dapat mengurangi kecenderungan anak berfantasi dalam
menyelesaikan masalah yang dialaminya, (8) anak memiliki peluang untuk
mempraktikkan pada kehidupan sehari-hari pengalaman yang diperoleh, (9)
kehadiran satu atau beberapa anak mungkin dapat membantu dalam pengembangan
hubungan terapeutik bagi beberapa orang anak lainnya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari
pemaparan di atas dapat di ambil kesimpulan :
1. Anak-anak
usia sekolah dasar berada dalam dua masa perkembangan,
yaitu masa perkembangan kanak-kanak tengah usia 6-9 tahun dan masa kanak-kanak
akhir usia 10-12 tahun.
2. Menurut
anak usia sekolelaah dasar bermain merupakan pengalaman yang berdampak pada
proses belajar.
3. Tahapan
konseling bermain yaitu fase pembukaan, fase anak bermain, dan fase penutup.
4. Jenis-jenis
permainan yang bisa digunakan adalah sonsorimotor, sombolis, sosial,
konstruktif dan game.
5. Peran
konseling bermain pada anak usia sekolah dasar adalah sebagai perkembangan
fisik, mental, bahasa, sosial, emosi, intelektual.
DAFTAR PUSTAKA
Conny, Semiawan. 2002. Belajar dan Pembelajaran Prasekolah dan Sekolah Dasar. Jakarta : PT. Macanan Jaya Cemerlang.
Desmita. 2009.
Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Eva,
Imania Eliasa.2012. (Games) Permainan Dalam Bimbingan Dan
Konseling. Tanggerang : MGBK
Nasional
Furqon. 2005.Konsep
dan Aplikasi Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar. Bandung : Pustaka Bani Quraisy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar