Sabtu, 03 November 2012

konseling bermain dalam penumbuhan karakter


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Usia rata-rata anak Indonesia saat masuk sekolah dasar adalah 6 tahun dan selesai pada usia 12 tahun. Mengacu pada pembagian tahapan perkembangan anak, anak usia sekolah dasar berada dalam dua masa perkembangan, yaitu masa perkembangan kanak-kanak tengah usia 6-9 tahun dan masa kanak-kanak akhir usia 10-12 tahun. Anak sekolah dasar memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih muda. Ia senag bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok dan senang merasakan atau melakukan.  
Anak sebagai peserta didik merupakan pribadi-pribadi yang unik, sebagai individu yang dinamis dan berada dalam proses perkembangan mempunyai berbagai macam kebutuhan dan dinamika dalam interaksinya dengan lingkungan sekitar. Pada diri anak senantiasa terjadi adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar. Hal tersebut merupakan aspek-aspek psikologis dalam pendidikan yang bersumber dari dalam diri anak sehingga menuntut adanya pendekatan psikologis untuk memfasilitasi perkembangan anak  tersebut.[1]
Salah satu cara anak mendapatkan informasi adalah melalui bermain. Bermain memberikan motivasi instrinsik pada anak yang dimunculkan melalui emosi positif. Emosi positif yang terlihat dari rasa ingin tahu anak meningkatkan motivasi instrinsik anak untuk belajar. Hal ini ditunjukkan dengan perhatian anak terhadap tugas. Emosi negative seperti rasa takut, intimidasi dan stress, secara umum merusak motivasi anak untuk belajar. Rasa ingin tahu yang besar, mampu berpikir fleksibel dan kreatif merupakan indikasi umum anak sudah memiliki keinginan untuk belajar. Secara tidak langsung bermain sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak untuk belajar dan mencapai sukses.
Oleh karena itu, bimbingan konseling memiliki andil yang sangat besar dalam membantu setiap peserta didik agar dapat mandiri dan dapat berkembang secara optimal, dan dalam hal permasalahan dalam belajar siswa, bimbingan konseling turut berperan dalam membantu proses dan pencapaian tujuan pendidikan. Namun, masih sangat dirasakan bahwa memberikan layanan bimbingan dan konseling untuk anak agak sulit. Disamping melihat dari segi kematangannya, konselor juga harus ingat bahwa anak memiliki karakteristik khusus maka dalam pemberian layanan pun harus disesuaikan.

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat di rumuskan rumusan masalah :
1.      Apa yang di maksud dengan konseling bermain?
2.      Bagaimana peran konseling bermain terhadap pembentukan karakter anak usia sekolah dasar ?

C.    Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk :
1.      Mengetahui konseling bermain
2.      Mengetahui peran bimbing konseling dalam pembentukan karakter anak usia sekolah dasar




















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Dan Konsep Konseling Bermain
 Dalam melakukan komunikasi dengan anak, kita seringkali kesulitan. Hal ini disebabkan anak tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam menjelaskan permasalahannya. Seringnya, anak  justru akan terlihat ketakutan atau memperlihatkan penolakan jika orang dewasa mendekatinya dengan menggunakan bahasa verbal.
Salah satu waktu anak bisa berekspresi adalah saat mereka bermain.  Sebagaiman diungkap oleh Muro & Kottman (1995) bahwa bermain merupakan bentuk self expression bawaan anak.  Bermain terjadi secara alamiah pada anak dan merupakan suatu ekspresi spontan dari emosi dan pikiran-pikirannya.  
Definisi bermain dijelaskan Dockett & Fleer (2000) “was a process in enganging in aimless activities, could not be defined by activities, rather that it was an attitude mind”. Bermain merupakan sebuah proses dalam mengikutsertakan peserta dalam tujuan,namun lebih dari pembentukan sikap didalamnya. Dan karakteristik bermain menurut Fromberg (1992) dan Dockett & Fleer (2000) memberikan gambaran bahwa bemain mempunyai sifat : simbolis, penuh arti, aktif, menyenangkan, kerelaan, pembangunan peranan, episode.[2]
Menurut Santrock (2006) bermain (play) adalah suatu kegiatan yang menyenangkan yang dilaksanakan untuk kepentingan kegiatan itu sendiri. Erikson dan Freud (Santrock,2006) berpendapat bahwa bermain merupakan suatu bentuk penyesuaian diri manusia yang sangat berguna menolong anak menguasai kecemasan dan konflik. Begitu juga Piaget (Santrock, 2006) memandang bahwa bermain sebagai suatu metode yang meningkatkan perkembangan kognitif anak-anak. Sedangkan Hurlock (1997) memberikan opini tentang bermain adalah kegiatan yang dilakukan atas dasar suatu kesenangan dan tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Kegiatan bermain dilaksanakan secara suka rela, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak luar.
Permainan anak berkembang sesuai dengan usianya.  Misalnya  bermain dengan aspek sensory motor merupakan dua jenis bermain yang dilakukan oleh anak pada usia tiga tahun pertama ; sedangkan bermain simbolik  mencapai puncaknya pada usia empat dan lima tahun yang kemudian diikuti dengan semakin meningkatnya aktivitas permainan dengan aturan bermain konstruktif. Kecenderungan-kecenderungan perkembangan bermain tersebut memberikan suatu indikasi tentang bahan, program, dan aktivitas bermain yang perlu disediakan bagi keperluan pendidikan dan bimbingan konseling anak[3].
Pada intinya, games bersifat sosial, melibatkan proses belajar, mematuhi peraturan, pemecahan masalah, disiplin diri dan control emosional dan adopsi peran-peran pemimpindengan pengikut yang kesemuanya merupakan komponen penting dari sosialisasi (Serok & Blum , 1993 ; Rusmana,2009). Games memberi kesempatan untuk mengekspresikan agresi dalam cara-cara yang dapat diterima secara sosial. Hal ini menurut Milberg (1976) sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa bermain dan permainan atau games yang diciptakan oleh manusia untuk memberikan keluaran-keluaran (outlets) kemarahan dan permusuhan yang dapat diterima yang merupakan jiplakan dari respons bertempur  atau berkelahi (Rusmana,2009).
B.     Tujuan Konseling Bermain
Pada dasarnya konseling bermain memiliki tujuan yang sama dengan konseling pada umumnya, yakni membantu anak untuk belajar tentang diri dan lingkungannya sehingga ia mampu mengambil keputusan dan upaya-upaya yang tepat sesuai dengan permasalahan yang dihadapi atau kebutuhan perkembangannya.
Landreth mengemukakan bahwa dalam proses konseling bermain, konselor hendaknya menyelesaikan sasaran-sasaran berikut :
1.      Membangun suasana yang aman bagi anak dengan merespon anak dengan baik
2.      Memahami dan menerima pandangan anak tentang lingkungannya dengan menunjukkan perhatian yang tepat
3.      Mendorong anak untuk mengekspresikan emosinya tanpa judgement
4.      Mendorong anak untuk bertanggung jawab dan membuat keputusan sendiri dalam permainannya
5.      Menyedikan peluang kepada anak untuk mengembangkan kemampuan pengendalian diri dan menghadapi peristiwa yang mungkin akan dihadapinya
6.      Memverbalisasikan pengalaman dan pengamatan konselor tentang perasaan dan tindakan anak.
C.    Proses Konseling Bermain
Pada umumnya proses konseling tidak memiliki tahapan yang pasti. Hal-hal yang sifatnya spontan, emergent, dan kontekstual bisa mempengaruhi jalannya konseling bermain. Namun tentunya, proses konseling tetap harus memiliki arah yang jelas. Muro & Kotmann (1995) menyarankan  konseling bermain berlangsung dalam 30-50 menit. Fase yang dilalalui adalah sebagai berikut :
1.      Fase Pembukaan
Konselor dengan sikap penerimaan yang baik mempersilakan dan mengundang anak untuk bermain di ruangan yang telah disiapkan sebelumnya. Menurut Carmichael (1994), peran konselor yang pertama dan terpenting adalah menyediakan suatu lingkungan yang secara emosional permisif dan aman bagi anak untuk berekspresi.
2.      Fase Anak Bermain
Fase selanjutnya anak melakukan aktifitas bermain sesuai dengan minat dan pilihannya. Konselor di sini menjadi teman bermain. Pada fase ini , konselor memperhatikan pola-pola perilaku yang ditampilkan anak. Konselor  perlu memverbalisasikan  pengalaman dan pengamatan  konselor terhadap perasaan dan tindakan anak.

3.      Fase Penutupan
Dalam ruang bermain, seorang anak yang siap mengakhiri konseling bisa mengekspresikan kurang minat untuk bermain sehingga mungkin tampak lesu atau bahkan merengek-rengek. Disarankan agar pada sesi sebelum penutupan ada semacam pemberitahuan dari pihak konselor.  Konselor dapat mendiskusikan perubahan yang konselor lihat juga meminta pendapat anak tentang perubahan yang dialaminya sejak awal konseling bermain.
            Pada saat bermain, anak secara spontan menggunakan kemampuan memaknai objek yang dia tahu, menggunakan/merekayasa, dan manakala tidak tahu anak akan berkata-kata dan bertanya-tanya dengan penuh perhatian. Melalui bermain anak mencapai definisi fungsional dari suatu konsep atau objek dan memperfoleh kemampuan menyampaikan pemikiran secara lisan maupun tertulis.[4]  
Kegiatan bermain memberikan pengalaman pada anak untuk meembangun dunia melalui berbagai fungsi mental dan emosional. Tahapan bermain menurut piaget berada diantara tahapan bermain simbolik dengan tahapan bermain game. Tahapan bermain simbolik ialah anak mengguanakan skema mental suatu objek untuk objek yang lain dalam bentuk konstruksi dan bermain dramatik. Bermain konstruksi berguna untuk membangun pikiran anak. Bermain dramatik ialah kemampuan menggambarkan pemikiran abstrak dengan objek real dan bermain peran.
Tahapan bermain game, yaitu bermain dengan menggunakan berbagai aturan formal yang dikembangkan oleh diri sendiri maupun orang lain. Bentuk bermain adalah konstruksi tingkat tinggi dan sosiodramatik. Bermain konstruksi tingkat tinggi adalah bermain dengan menggunakan alat permainan tiga dimensi berhubungan dengan struktur ruang, waktu dan aturan prasyarat. Bermain sosiodramatik merupakan bermaindramatik tingkat tinggi untuk menumbuhkan kemampuan konseptualisasi berbagai pemikiran sebagai kesiapan menghadapi berbagai pengalaman hidup.
Menurut Nancy King (1987:143-160) kategori bermain di sekolah dikelompokan dalam tiga kelompok, yaitu :
1.      Tahapan bermain instrumental, yaitu semua akademis harus dipromosikan dalam setting pengarahan tidak langsung atau bermain. Bagi anak dunia bermain merupakan pengalaman yang berdampak sebagai proses belajar. Kegiatan bermain membangun dunia melalui berbagai fungsi mental dan emosional.
2.      Tahapan bermain menurut Piaget (Heideman & Hewit,1992) berada diantara tahapan bermain simbolik dengan tahapan bermain game. Tahapan bermain simbolik ialah anak mengguanakan skema mental suatu objek untuk objek yang lain dalam bentuk konstruksi dan bermain dramatik. Bermain konstruksi berguna untuk membangun pikiran anak. Bermain dramatik ialah kemampuan menggambarkan pemikiran abstrak dengan objek real dan bermain peran.
3.      Tahapan bermain game, yaitu bermain dengan menggunakan berbagai aturan formal yang dikembangkan oleh diri sendiri maupun orang lain. Bentuk bermain adalah konstruksi tingkat tinggi dan sosiodramatik. Bermain konstruksi tingkat tinggi adalah bermain dengan menggunakan alat permainan tiga dimensi berhubungan dengan struktur ruang, waktu dan aturan prasyarat. Bermain sosiodramatik merupakan bermain dramatik tingkat tinggi untuk menumbuhkan kemampuan konseptualisasi berbagai pemikiran sebagai kesiapan menghadapi berbagai pengalaman hidup.

D.    Jenis-Jenis  Permainan

1.      Permainan Sensorimotor ( Praktis )
Menggunakan semua indera dengan menyentuh, mengeksplorasi benda, berlari, melompat, meluncur, berputar,melempar bola.
2.      Permainan Sombolis ( Pura-pura )
Terjadi ketika anak mentransformasikan lingkungan fisik ke suatu simbol, sehingga bersifat dramatis dan sosiodramatis.Dalam permainan pretend, ada 3 hal yang biasa terjadi : alat-alat, alur cerita dan peran.
3.      Permainan Sosial
Adalah permainan yang melibatkan interaksi sosial dengan teman sebaya.
4.      Permainan Konstruktif
Mengombinasikan kegiatan sensorimotor yang berulang dengan representasi gagasan simbolis. Permainan Konstrukstif terjadi ketika anak-anak melibatkan diri dalam suatu kreasi atau konstruksi suatu produk atau suatu pemecahan masalah ciptaan sendiri.
5.      Games
Adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh kenikmatan dan menyenangkan yang melibatkan aturan dan seringkali kompetisi dengan satu anak atau lebih.

E.     Peran Konseling Bermain Dalam Perkembangan Karakter
Penggunaan media bermain dan expressive arts dapat digunakan dalam pelaksanaan layanan bimbingan (Pamela, 2006). Play media dan expressive arts berfungsi dalam pekerjaan seorang konselor, karena: (1) anak biasanya tidak mempunyai kemampuan verbal untuk bertanya, menolong membantu permasalahannya, bermain salah satu cara berkomunikasi dengan anak dan “see their world“; (2) Expressive arts dan play media dilihatsebagai salah satu metode membantu anak mengekspresikan perasaannya  dan membangun sikap positif bagi dirinya dan temannya; (3) Strategi membangun hubungan digunakan sebagai peningkatan tingkah laku, klarifikasi perasaan; (4) Adanya keterbatasan tipe tingkah laku.  
Gladding (1992; Pamela, 2006) membuat intervensi konseling dengan menggunakan musik, dance, bermain dan humor, berkhayal, seni rupa, literatur, menulis, dan drama, beranggapan bahwa dengan menggunakan beberapa media di atas, seni membangun sebuah pengalaman bahwa “process oriented, emotionally-sensitive, socially directed and awareness focused“ dalam permainan berorientasi bagaimana prosesnya, sensitive dan emosional, bertujuan untuk sosialisasi dan berfokus kepada kewaspadaan atau kehati-hatian. Dan memungkinkan “ people from diverse backgrounds to develop in ways that are personally enhancing and enjoyable “ mempelajari orang dari berbagai latar belakang untuk mengembangkan cara-cara pribadi yang dapat meningkatkan dan mengembangkan dirinya. Disisi lain, Violet (1998; Pamela, 2006) memandang bahwa pendekatan bermain ini sebagai salah satu alternatif metode komunikasi, a window to our children. Teknik kreativitas ini dapat mengurangi permasalahan tingkah laku, meningkatkan hasil yang menyenangkan, pada umumnya mendukung kognisi yang sehat, afeksi dan pengembangan interpersonal.
Bermain telah menjadi bagian dari proses konseling terutama sejak  Melanie Klien dan Anna Freud menggunakan teknik permainan ini dalam psikoterapi anak-anak. Anna Freud (Muro & Kottman,1995) menyarankan bahwa mengobservasi permainan anak sebagai jalan bagi seorang konselor dalam membentuk emosi yang menyerangnya. Anna menggunakan permainan dan boneka untuk mendapatkan anak yang akan ikut dalam kegiatannya. Freud juga menyarankan bahwa spontanitas anak dalam bermain merupakan metode komunikasi yang sangat baik dengan mengajaknya dalam lingkungan yang aman dan akrab bagi mereka. Bahkan Melanie Klein (dalam Muro & Kottman,1995).
1.      Perkembangan intelektual
a.       Merangsang perkembangan kognitif
     Dengan permainan sensorimotor, anak akan mengenal permukaan lembut, halus, kasar atau kaku, sehingga meningkatkan kemampuan abstraksi (imajinasi, fantasi)dan mengenal konstruksi, besar-kecil, atas-bawah, penuh-kosong. Melalui permainan dapat menghargai aturan, keteraturan dan logika.
b.      Membangun struktur kognitif
     Melalui permainan, anak akan memperoleh informasi lebih banyak sehingga pengetahuan dan pemahamannya lebih kaya dan lebih mendalam. Bila informasi baru ini ternyata beda dengan yang selama ini diketahuinya, anak mendapat pengetahuan yang baru. Dengan permainan struktur kognitif anak lebih dalam, lebih kaya dan lebih sempurna.
c.   Membangun kemampuan kognitif
     Kemampuan kognitif mencakup kemampuan mengidentifikasi, mengelompokan, mengurutkan, mengamati, meramal, menentukan hubungan sebab-akibat, menarik kesimpulan.
            Permainan akan mengasah kepekaan anak akan keteraturan, urutan dan waktu juga meningkatkan kemampuan logika.
d.  Belajar Memecahkan Masalah
     Permainan memungkinkan anak bertahan lama menghadapi kesulitan sebelum persoalan yang ia hadapi dipecahkan. Proses pemecahan masalah ini mencakup imajinasi aktif anak-anak yang akan mencegah kebosanan.
e.   Mengembangkan rentang konsentrasi
     Apabila tidak ada konsentrasi atau rentang perhatian yang lama, seorang anak tidak mungkin dapat bertahan lama bermain (pura-pura menjadi dokter,ayah-ibu,guru). Ada yang dekat antara imajinasi dan kemampuan konsentrasi. Imajinasi membantu meningkatkan kemampuan konsentrasi. Anak tidak imajinatif memiliki rentang perhatian (konsentrasinya) pendek dan memiliki kemungkinan besar untuk berperilaku lain dan mengacau.
2.      Perkembangan Bahasa
          Bermain merupakan “laboratorium bahasa” buat anak-anak. Di dalam bermain, anak-anak bercakap-cakap dengan teman yang lain, berargumentasi, menjelaskan dan meyakinkan kosakata yang dikuasai anak-anak dapat meningkat karena mereka menemukan kata-kata baru.
3.      Perkembangan Sosial
a.       Meningkatkan sikap social
     Ketika bermain, anak-anak harus memperhatikan cara pandang lawan bermainnya, dengan demikian akan mengurangi egosentrisnya. Dalam permainan itu pula anak-anak dapat mengetahui bagaimana bersaing dengan jujur, sportif, tahu akan hak dan peduli akan hak orang lain. Anak juga dapat belajar bagaimana sebuah tim dan semangat tim.
b.      Belajar berkomunikasi
     Agar dapat melakukan permainan, seorang anak harus mengerti dan dimengerti oleh teman-temannya, karena permainan, anak-anak dapat belajar bagaimana mengungkapkan pendapatnya, juga mendengarkan pendapat orang lain.
c.       Belajar Berorganisasi
     Permainan seringkali menghendaki adanya peran yang berbeda, olah karena itu dalam permainan, anak-anak dapat belajar berorganisasi sehubungan dengan penentuan ‘siapa’ yang akan menjadi ‘apa’. Dengan permainan, anak-anak dapat belajar bagaimana membuat peran yang harmonis dan  melakukan kompromi

4.      Perkembangan Emosi
            Bermain merupakan pelampiasan emosi dan juga relaksasi. Peran  bermain untuk perkembangan emosi :
a.       Kestabilan emosi
     Ada tawa, senyum dan ekspresi kegembiraan lain dalam bermain. Kegembiraan yang dirasakan bersama mengarah pada kestabilan emosi anak.
b.      Rasa kompetensi dan percaya diri
     Bermain menyediakan kesempatan pada anak-anak mengatasi situasi.
Kemampuan ini akan membentuk rasa kompeten dan berhasil. Perasaan mampu ini pula dapat mengembangkan percaya diri anak-anak. Selain itu, anak-anak dapat membandingkan kemampuan pribadinya dengan temannya sehingga dia dapat memandang dirinya lebih wajar (mengembangkan konsep diri yang realistis)
c.       Menyalurkan keinginan
     Didalam bermain, anak-anak dapat menentukan pilihan, ingin menjadi apa dia. Bisa saja ia ingin menjadi ‘ikan’, bisa juga menjadi ‘komandan’ atau menjadi ‘pasukan perang’nya atau menjadi seorang putri.
d.      Menetralisir emosi negative
     Bermain menjadi “katup” pelepasan emosi negatif, misalnya rasa takut, marah, cemas dan memberi kesempatan untuk menguasai pengalaman traumatik.
e.       Mengatasi konflik
     Di dalam bermain, sangat mungkin akan timbul konflik antar anak dengan lainnya, karena itu anak-anak bisa belajar alternatif untuk menyikapi atau menangani konflik yang ada.
f.       Menyalurkan agresivitas secara aman
     Bermain memberikan kesemapatan bagi anak-anak untuk menyalurkan agresivitasnya secara aman. Dengan menjadi ‘raja’ misalnya, anak dapat merasa ‘mempunyai kekuasaan’ dengan demikian anak-anak dapat mengekspresikan emosinya secara intens yang mungkin ada tanpa merugikan siapapun
5.      Perkembangan Fisik
a.       Mengembangkan kepekaan penginderaan
     Dengan bermain, anak-anak dapat mengenal berbagai tekstur : halus, kasar, lembut; mengenal bau; mengenal rasa; mengenal warna
b.      Mengembangkan keterampilan motorik
     Dengan bermain seorang anak dapat mengembangkan kemampuan motorik, seperti berjalan, berlari, melompat, bergoyang mengangkat, menjinjing, melempar, menangkap, memanjat, berayun dan menyeimbangkan diri. Selain itu, anak dapat belajar merangkai, menyusun, menumpuk, mewarnai dan menggambar
c.       Menyalurkan energi fisik yang terpendam
     Bermain dapat menyalurkan energi berlebih yang ada diantara anak-anak, misalnya : kejar-kejaran. Energi berlebih yang tidak disalurkan dapat membuat anak-anak tegang, gelisah dan mudah tersinggung.
6.      Bermain Dan Kreativitas
            Dalam bermain, anak-anak dapat berimajinasi sehingga dapat meningkatkan daya kreativitas anak-anak. Adanya kesempatan untuk berfikir antara batas-batas dunia nyata menjadikan anak – anak dapat mengenal proses berfikir yang lebih kreatisif yang akan sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari
Studi tentang bermain dalam bimbingan dan konseling digambarkan oleh Russ (2003;Rusmana, 2008) dengan mengamati proses permainan, konselor dapat melihat ekspresi dari sejumlah proses kognisi, afeksi, proses interpersonal dan pemecahan masalah.
Proses kognisi melaui proses bermain meliputi (1) organisasi, (2) berfikir divergen, (3)simbolisme, (4) fantasi atau khayalan. Proses afeksi yang diekspresikan melalui proses bermain meliputi : (1) ekspresi emosi, (2) ekspresi tema-tema afeksi, (3) aturan emosi dan modulasi emosi dan (4) integrasi kognisi dan afeksi. Proses interpersonal yang diekspresikan melalui proses bermain meliputi : (1) empati, (2) skema interpersonal atau representasi diri, (3) komunikasi. Empati merujuk pada ekspresi kepedulian dan perhatian terhadap orang lain, sedangkan skema interpersonal atau representasi diri merujuk pada kapasitas individu untuk mempercayai orang lain. Komunikasi merujuk pada kemampuan untuk berkomunikasi, mengekspresikan gagasan dan emosi pada orang lain. 
Sweeney dan Homeyer (1999;Rusmana,2008) menambahkan bahwa terdapat sembilan keuntungan dari konseling melalui permainan kelompok, yaitu (1) kelompok dapat meningkatkan spontanitas anak sehingga level berpartisipasi mereka juga tinggi, (2) konseling melalui permainan kelompok dapat merespon dua persoalan sekaligus yaitu dimensi intrapsikis dan interpersonal anak, (3) dalam adegan kelompok memungkinkan untuk terjadi refleksi dan katarsis, (4) konseling melalui permainan kelompok merupakan kesempatan bagi anak untuk mencapai self-growth dan self-exploration, (5) melalui konseling dengan permainan (group play therapy) anak lebih didekatkan dengan realitas kehidupan sebenarnya, (6) karena konseling melalui permainan kelompok ibarat miniatur masyarakat, maka anak akan memahami makna kehadirannya bagi anak-anak yang lain, (7) adegan dalam konseling melalui permainan kelompok dapat mengurangi kecenderungan anak berfantasi dalam menyelesaikan masalah yang dialaminya, (8) anak memiliki peluang untuk mempraktikkan pada kehidupan sehari-hari pengalaman yang diperoleh, (9) kehadiran satu atau beberapa anak mungkin dapat membantu dalam pengembangan hubungan terapeutik bagi beberapa orang anak lainnya.




























BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat di ambil kesimpulan :
1.      Anak-anak usia sekolah dasar berada dalam dua masa perkembangan, yaitu masa perkembangan kanak-kanak tengah usia 6-9 tahun dan masa kanak-kanak akhir usia 10-12 tahun.
2.      Menurut anak usia sekolelaah dasar bermain merupakan pengalaman yang berdampak pada proses belajar.
3.      Tahapan konseling bermain yaitu fase pembukaan, fase anak bermain, dan fase penutup.
4.      Jenis-jenis permainan yang bisa digunakan adalah sonsorimotor, sombolis, sosial, konstruktif dan game.
5.      Peran konseling bermain pada anak usia sekolah dasar adalah sebagai perkembangan fisik, mental, bahasa, sosial, emosi, intelektual.










DAFTAR PUSTAKA
Conny, Semiawan. 2002. Belajar dan Pembelajaran Prasekolah dan Sekolah Dasar. Jakarta :       PT. Macanan Jaya Cemerlang.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
Eva, Imania Eliasa.2012. (Games) Permainan Dalam Bimbingan Dan Konseling. Tanggerang : MGBK Nasional
Furqon. 2005.Konsep dan Aplikasi Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar. Bandung :      Pustaka Bani Quraisy




[1] Desmita. 2009. Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung . hal 35
[2] http://lufensio-trio.blogspot.com/2012/09/konseling-bermain.html

[3] Ibid.
[4] Konsep Dan Aplikasi Bimbingan Konseling Di Sekolah Dasar. Hal 78

Tidak ada komentar:

Posting Komentar